Selasa, 15 November 2011

Vertikultur dengan Kaleng Bekas


Berkebun sayur di kota di lahan yg terbatas tidak masalah...

Gunakan kaleng-kaleng bekas cat 5 kg dan lubangi bagian bawah dan sampingnya.
Isi kaleng dengan media tanah, pupuk kandang/pupuk kompos dan sekam perbandingannya 1:1:1.
Masukkan bibit sayur di bagian samping.
Ajaib... bibit akan tumbuh ke samping dan usia 1-2 bulan kita sudah bisa panen.

Ternyata, setelah 2 minggu vertikultur kita sudah menampakkan hasil dan usia 1,5 bulan akan tumbuh daun yang lebat. (Ini contoh untuk tanaman slada merah dan hijau)
Wah...sayur slada yg indah bisa dijadikan hiasan di halaman rumah.

Rak vertikultur dari kaleng ini juga akan mengurangi limbah kaleng-kaleng. Media tanaman dari kompos rumah tangga akan membantu mengurangi sampah organik di rumah.
Panen langsung dari halaman rumah lebih segar dan dijamin lebih sehat karena berkebunnya organik.
Selamat mencoba.

Sabtu, 20 Agustus 2011

Warga Kota Berkebun (Urban Farming)

“Dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah, supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan, dan kebun-kebun yang lebat.” (Q.S An-Naba’ 14-16).


Pagi ini di bulan Romadlan, ada kesempatan untuk ajak anak-anak dan warga kompleks Bumi Asri tempat saya tinggal untuk menengok kebun, merawat dan mem
anen sayur yg telah mereka tanam sebulan yang lalu.

Bahagia sekali anak-anak berkebun. Banyak sekali pengalaman baru yang mer
eka dapatkan. Selama ini anak-anak sangat kurang sekali interaksinya dengan alam, sehingga waktu mereka bersentuhan dengan tanah, bibit dan memanen sayur itu merupakan pengalaman yg sangat berharga bagi mereka.

Betapa terkagum kagum nya anak-anak melihat proses pertumbuhan sayuran pakcoy, bayam dan kangkung yg dalam waktu 4 minggu sudah bisa dipanen. Dan begitu antusiasnya anak-anak mencabuti gulma agar pertumbuhan sayuran tida
k terganggu.

Dalam kegiatan ini. saya hanya berharap anak-anak bisa mencintai tanaman dan lebih menghargai para petani yg sudah susah payah merawat tanaman-tanaman yg kita konsumsi.


Tidak lupa saya berharap, anak-anak lebih dekat kepada sang Pencipta yang telah anugerahkan kemurahan alam ini kepada kita semua.

Ayo anak-anakku semangat berkebun, kita tanam biji-bijian dan kita tumbuhkan tanaman di negeri kita tercinta ini.



Sabtu, 07 Mei 2011

Berkebun untuk kurangi Emisi Karbon

Seminggu kemarin kampusku begitu semarak dengan spanduk-spaduk pencanangan "Low Carbon City". Spanduk-spanduk tersebut adalah ajakan para Mahasiswa Jurusan Perencaan Wilayah dan Kota ITENAS beserta para dosen kepada seluruh komponen masyarakat untuk mengurangi emisi karbon dan menciptakan pengembangan wilayah dan Kota dengan emisi karbon rendah.


(Seminar Low carbon City di Institut teknologi Nasional/ITENAS Bandung)

(Kegiatan Penghijauan oleh mahasiswa Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota ITENAS)


Kami sadar, bahwa aktifitas yang kita lakukan selama ini telah ikut menyumbang emisi karbon dan telah memberikan dampak pada pemanasan global. Produksi carbon terus-menerus kita lakukan baik untuk bernafas, mengkonsumsi listrik, menggunakan alat transportasi juga menggunakan hasil-hasil produksi.

sebagai contoh, diperkirakan :

  • Penggunaan listrik di rumah sebesar 10 kWh perbulan telah memproduksi 10 kg CO2
  • Berkendaraan menggunakan mobil sejauh 1 km akan memproduksi 200 gr CO2
  • Bernafas normal akan menghasilkan 36,92 gr CO2/jam
Emisi karbon ini telah menyumbang terhadap efek rumah kaca, yang diperkirakan saat ini telah menaikkan suhu permukaan bumi rata-rata sebesar 1°C sejak awal revolusi industri dan kenaikan akan mencapai 2°C pada pertengahan abad ini jika tidak ada langkah-langkah drastis yang diambil untuk mengurangi laju pertambahan emisi gas rumah kaca di atmosfer.

Pemanasan global akan berujung pada perubahan iklim yang menyebabkan berubahnya faktor-faktor iklim, seperti curah hujan, penguapan dan temperatur. Perubahan-perubahan ini juga akan memacu terjadinya bencana lingkungan yang terkait dengan faktor-faktor iklim seperti bencana banjir, peningkatan permukaan air laut, el nino, el nina dsb.

Apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi emisi karbon ?
yang sangat penting adalah kita mengurangi pemborosan-pemborosan energi (hemat listrik, bensin dll) dan kurangi aktifitas-aktifitas yang memproduksi karbon tinggi (kurangi buang sampah, kurangi pengunaan kertas dll).

Bagi hobiis berkebun, tentunya kita akan lebih semangat untuk menanam pohon. Menanam pohon keras diperkirakan akan mengurangi emisi gas CO2 sebesar 129, 92 Kg/Ha/Jam.

Gas karbon ini akan dirubah oleh tanaman menjadi oksigen dan massa tumbuhan apakah itu kayu buah dll pada saat proses fotosintetis.

Trimakasih banyak tanaman-tanamanku, ternyata engkau tidak cuma memberikan manfaat buah, bunga dan keindahan. Ternyata engkau juga telah membantu menyejukkan kota dan mengurangi efek pemanasan global.









Selasa, 22 Maret 2011

Investasi Hijau

Apa maksudnya investasi hijau ?

"Green Investment Fund"/ Investasi hijau diartikan sebagai investasi yang mendukung environmental stewardship (penjagaan lingkungan), perlindungan konsumen, keanekaragaman hayati dan keadilan.


Kebetulan ada teman dari kehutanan yang mengajak saya menanam sengon dan jabon. Alhamdulillah dengan modal yang saya miliki saya ikut berinvestasi sambil mendukung lingkungan dengan menanam 6.000 pohon sengon di lahan 2 Hektar di Kecamatan Sagalaherang Kabupaten Subang.


Puluhan/ratusan Hektar lahan Terlantar di Kec. Sagalaherang Subang
(Sumber : Dokumen pribadi)

Awal mulanya cuma diajak jalan-jalan cari pohon, tetapi setelah melihat ada puluhan hektar lahan nganggur dan kritis juga kesempatan untuk bisa menanam pohon. Akhirnya saya bulatkan niat saya untuk investasi hijau dengan menanam pohon Sengon dan jabon.

Petani menanam Sengon di Kec Sagalaherang Subang
Sumber : Foto pribadi


Cukup prihatin dengan tanah-tanah terlantar yang dibiarkan saja oleh pemiliknya. Alasannya pemilik lahan/para petani disana tidak memiliki modal untuk menanam tanaman sengon. Karena cukup lumayan investasinya. Diperlukan Rp 30 juta/ Ha lahan per 5 tahun untuk 3000 pohon sengon/ha (Jarak tanam 2x2).


Pohon Jabon Tumbuh Subur di Sagalaherang
Sumber : Foto Pribadi



Perhitungan dari para ahli kehutanan (lihat www.rajasengon.com dan situs-situs lainnya ttg Sengon) diperkirakan dalam 5 tahun pohon sengon sudah bisa dipanen.

Penerimaannya pada tahun ke 3 dari penjarangan Rp 50 juta.
Penerimaan pada tahun ke 4 dari penjarangan Rp 88 juta
dan pada tahun ke 5 panen sesungguhnya akan dihasilkan Rp 495 juta.

(Sumber : http://www.rajasengon.com/index.php/beranda/42-raja-sengon/110-perhitungan-labarugi-budidaya-sengon-per-1-hektare.html).

Cukup fantastis keuntungannya...
Pasar Kayu Sengon cukup luas, biasa digunakan untuk bekisting bangunan, untuk pengepakan kiriman barang, kayu lapis dll.

Yang lebih bikin semangat bagi saya yaitu telah diberi kesempatan untuk menanam, merawat, menyaksikan pertumbuhan Sengon yang cepat tumbuh besar dan menghijaukan lahan-lahan terlantar.

Sangat bersyukur, bisa mengajak para pemilik tanah terlantar untuk ikut menghijaukan bumi ini. Bersyukur lagi kalau bisa mengajak orang-orang yang punya duit untuk ikut berinvestasi sambil menghijaukan lahan-lahan terlantar.

Semoga Allah Ridlo, dan Allah berikan berkah dan rahmat Nya bagi orang-orang yang ikhlas berinvestasi hijau dan melestarikan bumi.

Senin, 21 Maret 2011

Berkebun Sayur di Halaman




Alhamdulillah, pertama kali panen kangkung darat, selada, bayam merah dan pakcoy.
Ternyata berkebun sayur di halaman mengasyikkan dan tidak sesulit yang saya bayangkan.

Berkebun kangkung darat dan bayam sudah bisa panen 21-30 hari. Untuk Pakcoy dan selada hanya perlu waktu 2 bulan sudah panen.

Panen kangkung Darat 21 Hari
(Sumber : Dokumen pribadi)

Untuk berkebun di halaman juga tidak memerlukan halaman yang luas. Dengan teknik Vertikulture/ membuat Rak bertingkat, kita bisa menanam berbagai macam sayuran di halaman.



Verticulture : Rak Tanaman Sayur
(Dokumen Pribadi)

Jangan kawatir keindahan halaman rumah berkurang, karena tanaman selada air, kangkung dan bayam merah memiliki keindahan tersendiri. Apabila bisa memadukan/ mengkombinasikan maka halaman rumah akan Asri dan dihiasi warna warni tanaman sayuran.

Kunci suksesnya adalah media diberi pupuk kandang yang cukup dan diberi pupuk organik cair seminggu sekali. Agar tumbuh lebih subur bisa disemprot dengan pupuk organik cair daun-daunnya. Selanjutnya serahkan semua pada Allah. Insya Allah kita bisa memanennya setiap saat dan dalam kondisi segar karena diambil langsung di halaman.

Bibit-bibit sayuran mudah didapatkan di toko-toko pertanian, dengan harga yg relatif murah.
Sebagai contoh harga bibit kangkung darat Rp 6000,- untuk 1500 butir.

Gunakan pupuk-pupuk organik dan hindarkan menggunakan pestisida karena ini akan kita konsumsi langsung.

Selamat mencoba.